REALISASI KONSEP KI HAJAR DEWANTARA

REALISASI KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

    Pendidikan menjadi hal yang paling sering menjadi sorotan, karena lewat pendidikanlah sesuatu perubahan dimulai. Penciptaan generasi muda yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan yang dengan ilmu pengetahuan itu dapat melakukan pembangunan di segala bidang merupakan alasan umum mengapa pendidikan menjadi begitu penting. Tokoh penidikan, Ki Hadjar Dewantara yang ingin mewujudkan hasil didikan yang mempunyai pengetahuan yang mumpuni secara intelektual maupun budi pekerti serta semangat membangun bangsa.

    Hal ini sejalan dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; dan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

    Namun masalah pendidikan di Indonesia yang sering dibicarakan sekarang, yaitu degradasi moral generasi muda yang masih belum bisa menyaring perkembangan globalisasi. Tawuran antar pelajar SMA 6 dan SMA 70 (senin, 24 September 2012), free sex, narkoba, dan tindakan asusila maupun pelanggaran hukum banyak mewarnai pendidikan Indonesia, bahkan hal ini dapat kita saksikan baik secara langsung maupun dimedia massa.

    Hal ini terjadi lantaran pendidikan kita dewasa ini lebih mementingkan hasil semata, tanpa mau lagi melihat proses yang terjadi di dalamnya. Pemeritah lmementingkan masalah nilai,
    angka-angka, dan ujian-ujian tulis. Angka-angka inilah yang dijadikan tolok ukur keberhasilan sekolah. Pemerintah seolah menutup mata terhadap menurunnya perilaku moral, rusaknya budaya anak-anak di sekolah, dan meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan remaja. “Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian dan target perolehan nilai.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimana konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara?
    2. Bagaimana realisasi konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara?
    3. Bagaimana cara konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat terealisasi?

PEMBAHASAN

  1. KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

Ki Hajar Dewantara mengawali pemikiran-pemikiran tentang pendidikannya dengan menekankan bahwa pendidikan yang terjadi pada masa itu tidak cukup memberikan ruang gerak kepada peserta didik untuk berkembang dan dipengaruhi oleh muatan-muatan politik kolonialisme. Pendidikan ala Barat yang oleh Ki Hajar Dewantoro dipandang hanya melahirkan kaum intelektual tetapi tidak memiliki nilai-nilai luhur yang berkembang di masyarakat, sehingga kualitas sumber daya manusia bukan manusia seutuhnya (Hatimah, 2008:1.34).

Oleh karena itu, tidak heran apabila hasil pendidikan barat melahirkan anak dengan budi pekerti yang rusak sebagai akibat anak yang hidup di bawah paksaan dan hukuman, yang biasanya tidak setimpal dengan kesalalahanya. Lebih jelas lagi Ki Hajar Dewantoro menyatakan bahwa Pendidikan berarti daya upaya untuk memasukkan “bertumbuhnya” budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak yang kita didik selaras dengan dunianya. (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa dalam Wahyudin, 2008:5.36).

KI Hajar Dewantara merupakan pendiri Taman Siswa. Asas Taman Siswa dirumuskan pada Tahun 1922, yang sebagian besar merupakan asas perjuangan untuk menentang penjajahan Belanda pada waktu itu. Asas Taman Siswa ini direvisi pada Tahun 1974 menjadi Dasar-dasar Taman Siswa, agar sesuai dengan tuntutan zaman yang baru. Dasar-dasar ini diberi nama Panca Darma, dengan isi sebagai berikut:

  1. Kemanusiaan, yaitu berupaya menghargai dan menghayati sesama manusia dan makhluk Tuhan lainnya. Meningkatkan kesucian jiwa dan cinta kasih.
  2. Kebangsaan, ialah bersatu dalam suka dan duka, dan tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan.
  3. Kebudayaan, yaitu kebudayaan nasional harus dilestarikan dan dikembangkan. Untuk itu Dewantara mengemukakan konsep Tri Kon yaitu:
    1. Kontinu, kebudayaan nasional harus dikembangkan secara terus menerus.
    2. Konsentrasi, kebudayaan itu harus berpusat pada kebudayaan bangsa Indonesia. Terhadap kebudayaan asing haruslah selektif.
    3. Konvergensi, kebudayaan-kebudayaan asing yang sudah diseleksi diintegrasikan ke dalam kebudayaan-kebudayaan asli bangsa Indonesia.
  4. Kodrat alam, manusia adalah bagian dari alam, maka manusia harus dibina dan berkembang sesuai dengan kodrat alam.
  5. Kemerdekaan/kebebasan, setiap anak harus diberi kesempatan bebas mengembangkan diri sendiri. Mereka perlu mendisiplinkan diri sendiri untuk mengejar nilai-nilai hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

                                (Pidatra, 2007:128)

3 Pandangan Hidup Ki Hajar Dewantara Yang menjadi semboyan Taman siswa sangat terkenal hingga sekarang yaitu : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”). semboyan ini juga memiliki pengetian sebagai berikut:

  1. Ing Ngarso Sun Tulodo

artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsunyang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadiseorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya.Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan.

  1. Ing Madyo Mbangun Karso

Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Membangun berartimembangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadimakna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampumembangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampumemberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan

  1. Tut Wuri Handayani

artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikandorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialahseseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dansemangat.

                                    (Aradea: 2011)

Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara

  1. Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya.
  2. Karena kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, maka sistim pengajaran haruslah berfaedah bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa. Untuk itu, di mata Ki Hajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyat.
  3. Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan; kita harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tentram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas.  Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang.
  4. Memajukan pertumbuhan budi pekerti- pikiran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, agar pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup. Yakni: kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia. Tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan.
  5. Dunia terus mengalami perkembangan, pergaulan hidup antar satu bangsa dengan bangsa lainnya tidak dapat terhindarkan. Pengaruh kebudayaan dari luar semakin mungkin untuk masuk berakulturasi dengan kebudayaan nasional. Oleh karena itu, seperti dianjurkan Ki Hajar Dewantara, haruslah kita memilih mana yang baik untuk menambah kemulian hidup dan mana kebudayaan luar yang akan merusak jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat: semua kemajuan dilapangan ilmu pengetahuan harus terorientasikan dalam pembangunan martabat bangsa.

                                    (Amoersetya: 2012)

  1. PELAKSANAAN KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA PADA MASA SEKARANG

    Sistem pendidikan Indonesia dari zaman kolonial hingga sekarang tetap saja mengecewakan. Hampir tidak ada lagi nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkan dalam proses penyelenggaraan pendidikan nasional kita. Pendidikan kapitalistik, seperti di era reformasi sekarang, hanya menciptakan pemisahan orang-orang terpelajar dengan rakyatnya, menyebabkan munculnya Stratifikasi sosial ditengah kehidupan masyarakat. Kondisi demikian tentu sangat jauh dari konsep pendidikan dan pengajaran yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara.

    Perubahan sistem kekuasaan merupakan penyebab utama hancurnya karaktek pendidkan nasional. Pada era kemerdekaan, pendidikan bertujuan melekatkan kemerdekaan pada persatuan rakyat. Lalu, sekarang pendidikan hanya dijadikan sebagai komoditi. Pendidikan nasional saat ini memiliki segudang persoalan, mulai dari wajah pendidikan yang berwatak pasar yang menyebabkan hilangnya daya kritis tenaga didik terhadap persoalan bangsanya hingga pemosisian lembaga pendidikan sebagai sarana menaikan starata sosial dan ajang mencari ijazah belaka. Tujuan pendidikan kita dewasa ini tentulah sangat berbeda dengan tujuan pendidikan ketika itu. Namun bila ditarik benang merahnya, maka akan terlihat persamaannya yaitu sama-sama berkehendak mencerdaskan pikiran dan perasaan seseorang. Tetapi amat disayangkan, bila pada akhirnya dunia pendidikan hanya menghasilkan ketajaman pikiran, yang terkadang tidak dibarengi oleh ketajaman rasa. Dengan kata lain, pendidikan saat ini, cenderung menghasilkan orang-orang pandai dan cerdas, tetapi kurang pandai dan cerdas dalam perasaan. Sehingga terjadilah hal-hal yang kerapkali menyimpang dari tujuan pendidikan semula, seperti pemalsuan ijazah atau tawuran di antara sesama pelajar

    Peranan pendidikan, yang sejatinya untuk pembangunan bangsa, telah didisorientasikan oleh kekuasaan guna kepentingan kapital semata. Di sini, pendidikan tak lebih dari alat akumulasi keuntungan. Disamping itu, kandungan pendidikan dan pengajaran sekarang ini tidak memuat nilai-nilai kebangsaan. Pendidikan sekarang hanya melahirkan sikap individualisme, hedonisme dan hilangnya jiwa merdeka. Hasil pendidikan seperti ini tidak dapat diharapkan membangunan kehidupan bangsa dan negara bermartabat.

  1. MEREALISASIKAN KONSEP PENDIDIKIKAN KI HAJAR DEWANTARA

    Salah satu cara untuk merealisasikan konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yaitu dengan pendidikan karakter yang akan diterapkan sebagai kurikulum di tahun 2013. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

    Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. pendidikan karakter mempunyai fungsi strategis bagi kemajuan bangsa, harus ada komitmen untuk menjalankan pendidikan karakter sebagai bagian dari jati diri bangsa. Komitmen yang harus kita jalankan semua, mengacu kepada 5 nilai karakter bangsa untuk menjadi manusia unggul yang disampaikan oleh Presiden SBY yaitu :

    1. Manusia Indonesia yang bermoral, berakhlak dan berperilaku baik;
    2. Mencapai masyarakat yang cerdas dan rasional;
    3. Manusia Indonesia ke depan menjadi manusia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan;
    4. Memperkuat semangat “Harus Bisa”, yang terus mencari solusi dalam setiap kesulitan;
    5. Manusia Indonesia haruslah menjadi patriot sejati yang mencintai bangsa,Negara dan tanah airnya.

    Peran Sekolah

    Dalam hal ini, waktu belajar peserta didik di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar dapat dicapai, terutama dalam pembentukan karakter peserta didik.

  • Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
  • Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah merupakan salah satu media yang potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan Ekstra Kurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah. Melalui kegiatan ekstra kurikuler diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial, serta potensi dan prestasi peserta didik.
  • Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.Dengan demikian, manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah.

Peran Keluarga

Rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan watak dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. Sebagaimana disarankan Phillips, keluarga hendaklah kembali menjadi “school of love”, sekolah untuk kasih sayang (Phillips 2000). Dalam perspektif Islam, keluarga sebagai “school of love” dapat disebut sebagai “madrasah mawaddah wa rahmah, tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang.

  1. SIMPULAN
    1. Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara: kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan batin bangsa Indonesia, kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, pendidikan tidak sebagai paksaan, memajukan pertumbuhan budi pekerti, haruslah memilih mana yang baik untuk menambah kemulian hidup dan mana kebudayaan luar yang akan merusak jiwa rakyat Indonesia.
    2. Pelaksanaan Konsep pendidikan saat ini sangat jauh dari konsep pendidikan dan pengajaran yang dimaksudkan oleh Ki Hajar Dewantara.
    3. Cara konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dapat terealisasi dengan pendidikan karakter.

DAFTAR PUSTAKA

Amoersetya, Rusdianto Alit. 2012. “Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Nasional”. http://m.berdikarionline.com/opini/20120609/pemikiran-ki-hajar-dewantara-tentang-pendidikan-nasional.html. Diakses tanggal 13 Desember 2012.

Azra, Azyumardin. 2012. “Pendidikan Karakter: Peran Sekolah dan Keluarga”. http://www.erlangga.co.id/umum/7405-pendidikan-karakter-peran-sekolah-dan-keluarga-.html. Diakses tanggal 13 Desember 2012.

Hatimah, Ihat, dkk.. 2008. Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta: Unversitas Terbuka.

Pidarta, Made. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rieneka Cipta.

Palasariku. 2011. “Sistem Pendidikan Era Globalisasi”. http://prosatika.wordpress.com/essay-1/sistem-pendidikan-era-globalisasi/. Diakses tanggal 13 Desember 2012.

Wahyudin, Dinn, dkk.. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.

………………. 2012. “Kurikulum Pendidikan yang Membebaskan”. http://www.berdikarionline.com/editorial/20121011/kurikulum-pendidikan-yang-membebaskan.html. Diakses tanggal 13 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: