PERTUMBUHAN, PERGANTIAN, DAN PENYERAPAN TEORI

PERTUMBUHAN, PERGANTIAN, DAN PENYERAPAN TEORI

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Kehidupan yang ada dimuka ini selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan yang terjadi dari muncul dari berbagai sisi, mulai dari sisi kehidupan itu sendiri maupun tekhnologi yang semakin menggejolak perkembangannya. Setiap fenomena yang merupakan hasil karya manusia adalah fenomena yang tidak terjadi dengan begitu saja tetapi merupakan akumulasi dari kontribusi yang sangat berharga yang dilakukan terus menerus oleh manusia di setiap zaman yang berhubungan dengan penemuan itu.

Sebagai contoh, ketika kita melihat sebuah roda (roda apapun itu) maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan sebuah karya umat manusia yang memiliki riwayat ribuan tahun. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan dan penemuan terus berkembang sesuai dengan perkembangan, kebutuhan dan penemuan baru.

Begitu juga dalam dunia ilmu, teori ilmu yang merupakan dasar dari dikembangkannya sebuah disiplin ilmu juga senantiasa berkembang seiring perkembangan masyarakat penggunanya. Pertanyaan–pertanyaan baru dalam sebuah disiplin ilmu yang tidak bisa dijawab oleh ilmuwan dalam disiplin ilmu tersebut akan menumbuhkan sebuah asumsi baru, hipotesa baru, teori baru dan perkembangan baru dari disiplin ilmu tersebut. Asumsi, hipotenusa, teori akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perubahan fenomena-fenomena yang muncul dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kami tertarik untuk membahas hal tersebut dalam makalah ini dengan judul “Pertumbuhan, pergantian dan penerapan teori”.

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang dimaksud dengan teori?
    2. Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan teori?
    3. Apa yang dimaksud dengan pergantian teori?
    4. Apa yang dimaksud dengan penyerapan teori?
    1. Apa hubungannya pertumbuhan, pergantian, dan penyerapan teori dengan ilmu sains?

      PEMBAHASAN

      1. PENGERTIAN TEORI

    Menurut Kneller (dalam Sadullah, 2003:4) bahwa teori memiliki dua pengertian. Pertama, teori itu empiris, dalam arti sebagai suatu hasil pengujian terhadap hipotesis dengan melalui observasi dan eksperimen. Kedua teori dapat diperoleh melalui berfikir sistematis spekulatif dengan metode deduktif. Suatu teori dalam Scientific Knowledge adalah suatu proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk memberikan penjelasan tentang sejumlah fenomena misalnya teori Darwin tentang evolusi organisme hidup yang menerangkan bahwa bentuk-bentuk organisme yang lebih rumit berasal dari sejumlah kecil bentuk-bentuk sederhana dan primitif dalam perkembangannya secara evolusioner sepanjang masa.

    Menurut Kerlinger (dalam Gie, 2004:145) tujuan akhir dari ilmu adalah mencapai teori yang tidak lain adalah penjelasan terhadap fenomena alamiah. Terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam mencermati lebih jauh mengenai teori, yakni:

    1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri dari konstrak (construct) yang sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam set tersebut secara jelas.
    2. Teori menjelaskan hubungan antar variabel atau antar konstrak sehingga pandangan yang sistematik dari fenomena fenomena yang diterangkan oleh variable dengan jelas kelihatan.
    3. Teori menerangkan fenomena dengan cara menspesifikasi variabel satu berhubungan dengan variable yang lain.
    4. Teori sebagai alat ilmu. Teori dinyatakan pula sebagai alat dari ilmu (tool of science).

    Di dalam ilmu pengetahuan, kedudukan teori berada di bawah ilmu. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan terhadap satu bidang permasalahan dengan menggunakan metode penelitian yang terpercaya untuk memperoleh kebenaran baru yang berhubungan dengan bidang tersebut yang kemudian disusun secara sistematis dan koheren. Sementara teori merupakan kumpulan dari prinsip-prinsip yang sudah diteliti kebenarannya. Yang parallel dengan teori adalah hukum, dalil, aksioma dan asumsi. Aksioma adalah kebenaran ilmiah baik berupa prinsip ataupun bukan tidak perlu diuji lagi kebenarannya. Teori yang belum teruji dinamakan hipotesis. Konsep dan prinsip yang sudah diteliti akan menjadi teori yang baru atau akan memperkuat teori yang lama.

Peranan teori sebagai alat ilmu meliputi :

  1. Mendefinisikan orientasi utama dari ilmu dengan cara memberikan definisi terrhadap jenis-jenis data yang akan dibuat
  2. Teori memberikan rencana konseptual, dengan rencana fenomena-fenomena yang relevan disitematisasi, diklasifikasi dan dihubung-hubungkan.
  3. Teori memberi ringkasan terhadap fakta dalam bentuk generalisasi empiris dan sistem generalisasi
  4. Teori memberikan prediksi terhadap fakta. Teori memperjelas celah-celah dalam pengetahuan kita.

Adapun contoh suatu peristiwa terjadi sampai berkembang menjadi teori misalnya ketika kita mengamati bahwa tanah disekitar gunung berapi merupakan tanah yang subur. Ada dua fenomena yang barangkali berkaitan : tanah yang subur dan gunung berapi. Kita melangkah lebih lanjut dan mengambil kesimpulan : gunung berapi yang menyebabkan tanah menjadi subur, tentu kita tidak mungkin mengambil kesimpulan yang sebaliknya, tanah subur menyebabkan gunung berapi. Kita satu langkah lebih maju, kemudian orang lain mengamati bahwa ada tanah yang subur meskipun tidak berada didekat gunung berapi. Dengan “bukti” yang baru tersebut kita melakukan pengamatan lebih lanjut.

Kita sampai pada kesimpulan baru bahwa, bukan gunung berapi itu sendiri yang membuat tanah subur, melainkan zat yang dikeluarkan gubung berapi yang kita namakan humus. Kita memperbaiki kesimpulan kita menjadi “humus bisa membuat tanah menjadi subur”. Kita sudah membuat teori. Selanjutnya, kita bisa membuat prediksi, kalau tanah diberi humus, tanah tersebut menjadi subur. Misalkan ada seorang petani yang menginginkan tanahnya menjadi subur, kita mempunyai teori humus. Maka kita menyarankan tanah petani tersebut diberi humus biar subur. Jika petani tersebut tidak tahu teori humus, dia akan mencoba-coba cara agar tanah menjadi subur, pertama, mungkin dengan sesajian, kedua, mungkin dengan membeli traktor. Petani tersebut telah melakukan coba-coba (trial and error) yang kurang efisien. Dengan demikian teori bisa meminimalkan coba-coba, dan mengefisienkan kerja kita, dengan asumsi teori tersebut benar.

Dari beberapa pandangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa teori adalah hasil dari hipotesis yang telah teruji baik melalui observasi dan eksperimen maupun berpikir deduktif untuk memberikan penjelasan tentang suatu fenomena.

  1. PERTUMBUHAN TEORI

    Teori tumbuh berdasarkan dari fakta yang muncul di lapangan beserta fenomena-fenomena yang ada didalamnya baik berupa gejala social maupun natural. Teori tumbuh dari penalaran yang berdasarkan pengamatan. Zaman dahulu orang Babilonia mempercayai bahwa bumi itu datar. Hal ini didasari atas pengamatan terhadap ruang gerak yang sempit, misalnya sebuah desa atau Negara kecil yang datar. Di Mesir juga berkembang suatu pengetahuan yang disebut geometri yang secara harfiah berarti ilmu ukur bumi. Ilmu ukur ini menggunakan bidang datar sebagai landasan pembahasan dan berdasarkan anggapan itu kemudian berkembanglah berbagai hubungan antara titik, garis lurus, sudut antara dua garis yang berpotongan, serta berbagai bangun geometri pada bidang datar. Anggapan bahwa bumi ini bentuknya datar adalah suatu contoh tentang teori.

    Kemudian muncul dari hasil pengamatan para ahli bintang, melihat pada waktu terjadi gerhana tampak bahwa bayangan bumi dibulan berbentuk seperti lingkaran. Selain itu, ditambah lagi pengamatan dari para pelaut yang melihat jika ada sebuah kapal muncul, maka yang pertama kali terlihat adalah tiang layar utama secara perlahan-lahan dari bawah ufuk dan kemudian disusul oleh kapal itu sendiri. Demikian pula pelaut yang berlayar dari belahan bumi utara arah selatan akan dapat melihat bintang-bintang yang ditempat tinggalnya semula tidak tampak karena ada di bawah ufuk. Dengan demikian, orang tidak lagi beranggapan bahwa bumi itu datar melainkan bulat.

    Salah satu ciri teori adalah kebenarannya harus dapat diuji. Dari hasil pengamatan tambahan oleh para ahli bintang dan para pelaut yang akhirnya menggoyahkan teori bahwa bumi itu datar. Kemudian disusunlah suatu teori baru yang mengatakan bahwa bumi itu bulat. Hal ini ditunjukkan oleh keberhasilan Colombus yang menemukan jalur pelayaran baru ke barat yaitu jalur yang berlawanan arah dengan arah yang ditempuh oleh orang lain, guna mencari jalan baru ke sasaran yang ada di timur yaitu kepulauan rempah-rempah (Indonesia ).

    Maka, dapat dikatakan bahwa teori tumbuh dari penalaran yang berdasarkan pengamatan dan dari fakta yang muncul di lapangan beserta fenomena-fenomena yang ada didalamnya baik berupa gejala sosial maupun natural.

  1. PERGANTIAN TEORI

    Pergantian teori disebabkan oleh pengamatan-pengamatan tambahan yang dapat teori yang sudah ada. Seperti dengan berkembangnya mekanika yang dipelopori oleh Newton dan Huygens, bentuk bumi yang bulat itu mendapatkan tantangan perubahan. Dalam karya ilmiahnya Principia Newton membuat penalaran bahwa sumbu bumi yang melalui khatulistiwa lebih panjang 1/230 kali dibandingkan dengan sumbu yang melewati kedua kutubnya.

    Namun kenyataannya kelebihan itu bukan 1/230 kali melainkan 1/300 kali. Penalaran Newton ini diperkuat oleh hasil percobaan yang dilakukan oleh suatu ekspedisi ilmiah Perancis ke Guyana. Suatu lonceng bandul yang berjalan tepat di Paris berjalan lebih lambat dua setengah menit setiap harinya di Kayene yang letaknya dekat katulistiwa. Hal ini juga diperkuat bahwa bentuk bumi yang sebenarnya baru dapat dilihat dengan mata setelah orang dapat membuat pesawat ruang angkasa yang dapat ditumpangi dan diperoleh foto-foto bumi yang mereka buat dari pesawat ruang angkasa tersebut, tampak bahwa bentuk bumi sebenarnya tidak bulat melainkan elipsoid.

    Sekitar tahun 270 SM Aristoteles dari Samos berangapan bahwa bumi bergerak mengaitari. Teori astronomi Ptolomaios juga berada pada anggapan geosentris ini. Namun diabad XV, Nicholas dari Kusa menyanggah hal ini, dan mengemukakan bumilah yang bergerak. Hal ini di dukung juga oleh Copernicus yang mengemukakan bahwa matahari menjadi pusat peredaran benda langit. Teori heliosentrid inilah yang menyebabkan Galileo diadili oleh para pemuka gereja.

    Setiap orang yang benar-benar yakin akan kebenaran mutlat agamanya tidak perlu takut bahwa sains yang mencari kebenaran itu dapat menemukan fakta yang menunjukkan bahwa agama yang dipeluknya itu benar. Seandainya muncul ketidaksesuaian, maka itu terjadi bukan karena wahyu Allah yang tidak benar, melainkan karena manusianya yang menafsirkan wahyu itu  telah salah menangkap makna yang benar sebab kebenaran wahyu Allah adalah mutlak. Oleh karena itu, dengan tidak adanya kendala terhadap pengembangan suatu teori dan bidang ilmu tertentu seringkali membantu orang menyadari akan adanya mukjizat yang terangkum didalam ayat-ayat yang diwahyukan oleh Allah SWT.

    Dapat disimpulkan bahwa, pergantian teori disebabkan oleh pengamatan-pengamatan tambahan yang dilakukan terhadap teori yang sudah ada. Karena adanya pengamatan-pengamatan baru terhadap teori yang sudah ada sehingga teori lama tidak berlaku lagi dan menyebabkan terjadinya pergantian teori. Teori baru akan tetap bertahan apabila belum ada ada teori yang menggantikannya.

  2. PENYERAPAN TEORI

    Dalam perkembangannya ilmu pengetahuan selalu mengalami tantangan yang besar. Bila suatu teori muncul maka perubahan pandangan tentang teori tersebut akan terjadi dan membutuhkan waktu. Perubahan pandangan tersebut ada yang berlangsung cepat dan ada yang berlangsung perlahan-lahan. Di sinilah terjadi proses berfikir sebagai akibat munculnya suatu teori, sebagian orang menganggap bahwa suatu teori yang muncul adalah suatu kebenaran yang bisa langsung diterima dan dipercaya, tetapi untuk sebagian orang teori tersebut masih harus dibuktikan kebenarannya sampai terbukti apakah teori itu bisa diterima atau tidak.

    Tetapi tidak sampai disitu saja, terkadang dalam proses pembuktian itu justru ditemukan suatu teori baru yang bisa memperkuat teori yang sudah ada atau sebaliknya bertolak belakang dengan teori yang ada. Perkembangan sains melalui perubahan yang mendesak disebut Kuhn (1970) (dalam Nasoetion, 1999: 92) sains revolusioner, sedangkan perubahan yang perlahan-lahan itu disebutnya sains normal.

    Contohnya dalam bidang fisika, saat teori gravitasi Newton muncul ada proses dari awal munculnya teori sampai pada akhirnya orang bisa menerima teori tersebut karena teori itu dapat menjelaskan berbagai kejadian alam, berbagai penyelidikan yang menggunakan teori itu sebagai dasar mengembangkan teori itu menjadi suatu kumpulan pengetahuan yang kokoh. Tetapi dalam proses perkembangan selanjutnya ternyata terjadi penolakan terhadap teori Newton dan muncul teori Einstein  yang justru lebih mudah diterima dan lebih masuk akal. Itulah momentumnya dimana terjadi perubahan besar dalam bidang fisika. Thomas S. Kuhn dalam The Structure Of Scientific Revolution menggambarkan bahwa : Sebuah disiplin ilmu tidaklah berjalan stabil, ia mengalami pasang surut juga goncangan.

    Pada teori akan ada saat dimana terjadi perubahan yang menggeser teori lama dan menggantikannya dengan sebuah teori baru yang lebih baik. Apabila sebuah teori lama diperbaiki dan diganti dengan teori baru yang merupakan penyempurnaannya, maka yang sebenarnya terjadi adalah sebuah perbaikan dalam kondisi normal. Namun jika yang terjadi adalah pergantian secara menyeluruh pada teori lama dengan teori baru, kemudian teori yang baru seutuhnya dijadikan dasar yang baru bagi pengembangan ilmu tersebut, maka yang terjadi adalah sebuah revolusi ilmu.

  1. PERTUMBUHAN, PERGANTIAN, DAN PENYERAPAN TEORI DALAM DUNIA MATEMATIKA DAN FISIKA

    Matematika merupakan salah satu pengetahuan yang kita kenal saat ini yang memiliki pengaruh yang sangat luar biasa terhadap perkembangan peradaban manusia. Matematika yang kita kenal saat ini memiliki riwayat yang tidak singkat. Dimulai dari Euclide (lahir 325 s.m.), ia adalah pemikir Yunani yang menyempurnakan Geometri. Demikian sempurnanya Geometri Euclide ia menjadi dasar dari pengembangan disiplin Geometri dan tidak tergeserkan dalam kurun waktu 2000 tahun. Pada saat yang hampir bersamaan Aristoteles membangun dan menyempurnakan Logika yang hingga saat ini menjadi rangka dasar dari bangun Sains.

    Demikian sempurnanya Logika Aristoteles maka upaya-upaya penyempurnaan logika di masa–masa berikutnya hanyalah merupakan pendalaman saja. Rene Descartes (1586 – 1650) melihat sebuah potensi besar apabila Logika Aristoles dengan Geometri Euclide disatukan. Dengan bantuan disiplin aritmatika yang telah disempurnakan oleh masyarakat Muslim menjadi wujud baru yang disebut dengan nama Aljabar, Descartes menyatukan Logika Aristoteles dengan Geometri Euclides . Lahirlah Geometri Analitik ditangan Descartes. Geometri Analitik inilah yang saat ini kita kenal dengan nama Matematika.

    Namun orang yang sangat berjasa menjembatani Geometri Analitik dengan dunia empiris adalah Galileo Galilei (1642–1727). Galilei merumuskan langkah deskriptif mengenai gerak benda di ruang metrik, landasan teori gravitasi dan landasan Kinematika. Dengan sarana-sarana yang telah dibangun dan disumbangkan oleh Aristoteles, Euclides dan Descartes, Isaac Newton (1642–1727) mengukir sejarah besar dalam dunia sains. Dengan menggunakan Geometri Analitik karya Rene Descartes ia menyempurnakan Teori Gerak dan Gravitasi yang dirintis oleh Galilei. Kemudian dari tangan Newton lahirlah Matematika baru yang dikenal dengan nama Kalkulus. Matematika yang mampu membuat deskripsi dan analisis mengenai perubahan.

    Dengan Kalkulus ini pulalah Newton menggabungkan dan menyempurnakan temuan Johannes Kepler mengenai Orbit Tata Surya ke dalam Teori Gravitasinya. Newton pulalah yang membangun landasan bagi disiplin Fisika. Di tangan Newton Fisika berkembang menghasilkan Statika, Kinematika dan Dinamika yang menjadi dasar bagi semua ilmu-ilmu kebendaan. Hal inilah yang menyebabkan Newton mendapat gelar sebagai Bapak ilmu pengetahuan modern. Fisika Newton kemudian dikenal dengan sebutan Fisika Klasik.

    Namun di akhir abad ke 19 muncul penemuan yang mengejutkan, dengan Hukum-hukum Elektrodinamika temuannya, Maxwell mampu menghitung kecepatan cahaya. Menurut Maxwell kecepatan cahaya adalah konstan dan tidak tergantung pada kecepatan benda. Pernyataan ini kemudian dikenal sebagai hukum “Invarian Kecepatan Sinar”. Hukum ini bertentangan dengan Fisika Klasik yang menyatakan bahwa kecepatan benda termasuk kecepatan cahaya akan bergantung kepada gerak benda.

    Karena para ilmuwan saat itu lebih mempercayai Fisika Newton maka mereka pun meragukan atau bahkan menolak pendapat Maxwell. Tetapi sejarah mencatat, disebabkan oleh penemuan Maxwell inilah kemudian lahir sejarah baru dalam dunia fisika, sebuah sejarah besar dimana Fisika Klasik yang menjadi landasan dari Dunia Fisika kemudian runtuh dan digantikan dengan Landasan baru yang perkembangannya kemudian dikenal dengan nama Fisika Non Klasik atau Fisika Modern.

    Saat kebanyakan fisikawan menolak penemuan Maxwell, Albert Einstein justeru bersimpati dan mencoba mencari jawaban dari pertentangan penemuan Maxwell dengan Fisika Klasik. Dan Einstein berhasil menemukan jawabannya, kelemahan Fisika klasik adalah terletak pada landasannya yaitu Geometri Euclide. Geometri Euclide dirancang diruang hampa atau ruang kosong tanpa benda maka dari itu Geometri Euclide tidak mampu menjawab penemuan Maxwell.

    Dari jawaban itu Einstein, selain menemukan cacat-cacat yang sangat fatal dari Fisika klasik yang menyebabkan Fisika klasik tidak mampu menjawab pertanyaan -pertanyaan dan penemuan-penemuan baru, Einstein juga menemukan hukum baru yang kemudian menggeser posisi Fisika Klasik sebagai landasan dunia Fisika. Dalam Fisika klasik, kerangka ruang dan waktu bersifat mutlak yang di dalamnya benda-benda berinteraksi. Einstein menemukan bahwa konsep ruang dan waktu tidak bersifat mutlak. Ruang dan waktu adalah milik setiap benda secara individual yang terpisah dari ruang dan waktu milik benda lain. Dengan demikian ruang dan waktu bersifat Relatif. Hukum baru atau landasan baru itu adalah Teori Relativitas.

    Berikutnya dengan menggunakan hukum relativitas maka Einstein dapat lebih jauh lagi mengungkap hubungan terpadu antara Massa, Gravitasi dan Ruang –Waktu. Menjelang akhir abad 19 ini juga muncul penemuan baru lainnya yang juga cukup mengejutkan yaitu lahirnya Mekanika Kuantum atau Mekanika Gelombang di tangan Max Planc. Diawali dengan mengangkat kembali teori Newton mengenai Photon (Teori yang menyatakan bahwa cahaya merupakan Partikel) kemudian mendampingkannya dengan Teori Gelombang Maxwell (bahwa cahaya merupakan gelombang), Planc menemukan bahwa energi cahaya membentuk butir-butir cahaya atau berkuanta.

    Demikianlah pada akhirnya Fisika Klasik yang selama ini menjadi dasar bagi pengembangan dunia Fisika telah digantikan oleh Teori Relativitas dan Mekanika Kuantum yang pengembangannya kita kenal dengan sebutan Fisika modern.

PENUTUP

Maka, dapat ditarik simpulan dari makalah di atas, bahwa:

  1. Teori adalah hasil dari hipotesis yang telah teruji baik melalui observasi dan eksperimen maupun berpikir deduktif untuk memberikan penjelasan tentang suatu fenomena.
  2. Pertumbuhan teori muncul dari penalaran yang berdasarkan pengamatan dan dari fakta yang muncul di lapangan beserta fenomena-fenomena yang ada didalamnya baik berupa gejala sosial maupun natural.
  3. Pergantian teori disebabkan oleh pengamatan-pengamatan tambahan yang dilakukan terhadap teori yang sudah ada. Karena adanya pengamatan-pengamatan baru terhadap teori yang sudah ada sehingga teori lama tidak berlaku lagi dan menyebabkan terjadinya pergantian teori.
  4. Penyerapan teori akan ada saat dimana terjadi perubahan yang menggeser teori lama dan menggantikannya dengan sebuah teori baru yang lebih baik. Apabila sebuah teori lama diperbaiki dan diganti dengan teori baru yang merupakan penyempurnaannya, maka yang sebenarnya terjadi adalah sebuah perbaikan dalam kondisi normal. Namun jika yang terjadi adalah pergantian secara menyeluruh pada teori lama dengan teori baru, kemudian teori yang baru seutuhnya dijadikan dasar yang baru bagi pengembangan ilmu tersebut, maka yang terjadi adalah sebuah revolusi ilmu.
  5. Hukum Relativitas, Mekanika Kuantum, Bom Atom, Nuklir, semua itu tak akan pernah ada jika tidak dimulai oleh Geometri Euclide yang dibangun sekitar 2330 tahun lalu. Sains (teori) senantiasa mengalami penyempurnaan disetiap zaman.

DAFTAR PUSTAKA

Ani. Pertumbuhan, Pergantian, dan Penyerapan Teori. (Online) (http://anii88.blogspot.com/2011/11/pertumbuhan-pergantian-penyerapan.html) diakses tanggal 15 november 2012.

Burhanuddin Salam. 1993. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Reneka Cipta.

Djoko Adi Waluyo. Pertumbuhan, Pergantian, dan Penyerapan Teori. (Online) (http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/hubungan-teori-fakta.html) diakses tanggal 16 november 2012

Hilda. Pertumbuhan, Pergantian, dan Penyerapan Teori. (Online) (http://hilda08.wordpress.com/pertumbuhan_pergantian_penyerapan-teori/.com) diakses tanggal 20 november 2012.

Malalina. Pertumbuhan, Pergantian, dan Penyerapan Teori. (Online) (http://yrmalalina.blogspot.com/2011/08/pertumbuhan-pergantian dan-penyerapan.html) diakses tanggal 15 november 2012.

Sonny Keraf. 2001. Ilmu Pengetahuan (Sebuah tinjauan Filosofis). Yogyakarta:Kanisius.

Suriasumantri, Jujun S. 1990. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: