LUNTURNYA BUDAYA SOPAN SANTUN SISWA TERHADAP GURU DITINJAU DARI LANDASAN SOSIAL BUDAYA

 


 

Nama             : IDA SURAMUN HUSNA

NIM            : 06022681318061

Prodi             : Pendidikan Matematika

Dosen Pengasuh    : 1. Prof. Dr. H. M. Djahir Basir, M.Pd.

             2. Dr. Rusdi A. Siroj, M.Pd.

 

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2013 / 2014

PENDAHULUAN

Indonesia telah dikenal luas di mata dunia dengan budaya yang menjunjung tinggi keramahan dan sopan santun. Nilai budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat menjujunjung tinggi persaudaraan, saling menghormati dan menghargai orang lain sangat kental. Sebagai contohnya, banyak yang berbasa basi untuk menanyakan kabar pribadi dan keluarga kemudian baru dilanjutkan dengan topik pembicaraan sehingga terjalin komunikasi yang hangat dan bersahabat.

Hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan. Meski seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas (purna bhakti), hubungan dengan siswanya (mantan siswa) relatif masih terjaga. Dalam keseharian, sering kita melihat kecenderungan seorang guru ketika bertemu dengan  siswanya yang sudah sekian lama tidak bertemu, sang guru akan tetap menampilkan sikap dan perilaku keguruannya, seperti dukungan, kasih sayang, serta nasehat meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih  dalam asuhannya.

Begitu juga dengan sang siswa, sekalipun dia sudah meraih kesuksesan hidup yang jauh melampaui gurunya, baik dalam jabatan, kekayaan atau ilmu pengetahuan, dalam hati kecilnya akan terselip rasa hormat yang diekspresikan secara sopan dan santun dalam berbagai bentuk, seperti senyuman, sapaan, cium tangan, menganggukkan kepala, hingga memberi kado tertentu yang sudah pasti bukan dihitung dari nilai uangnya. Inilah salah satu kebahagian seorang guru, ketika masih sempat menyaksikan putra – putri didiknya meraih kesuksesan hidup. Budaya sopan santun dari para  siswanya itu bukan muncul secara otomatis tetapi justru terbangun dari sikap dan perilaku profesional yang ditampilkan sang guru ketika masih bertugas.

Budaya sopan santun inilah yang sangat dipuji oleh guru – guru dari Australia peserta program Building Relations through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (BRIDGE) yang mendapat kesempatan mengajar beberapa minggu di MAN 2 Jakarta. Emily Sullivan (VIVA news :2012), salah satu pengajar dari Our Lady of Sacred Heart College – Adelaide, menyatakan “Saya melihat murid-murid Indonesia sangat menghormati guru mereka. Jujur, saya kaget dengan tradisi murid-murid mencium tangan saya sebagai bentuk penghormatan terhadap guru”. Dari pengalaman mereka tersebut menunjukan bahwa pendidikan Indonesia mempunyai sosial dan budaya yang baik dan memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang diinginkan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir budaya keramahan dan sopan santun di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari generasi muda atau remaja yang cenderung kehilangan etika dan sopan santun terhadap teman sebaya, orang yang lebih tua, guru bahkan terhadap orang tua. Siswa tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, seorang yang memberikan ilmu dan pengetahuan yang patut di hormati dan disegani. Seperti yang terjadi baru-baru ini, tepatnya pada 5 Desember 2013, seorang siswa SMK Muhammadiyah 1 Solo menyerang guru pengawas ulangan dengan pisau cutter hingga sang guru terluka. Hanya karena sang guru dianggap lamban membagikan soal ulangan, siswa tersebut merasa kesal kemudian mendorong badan guru sembari mengeluarkan kata-kata kasar dan menantang sang guru untuk berkelahi. (Merdeka.com,2013). Seorang siswa SMP di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, mengancam akan berbuat kasar setelah dimarahi oleh guru kelasnya. Siswa tersebut mengancam akan menginjak leher sang guru lantaran sang guru memarahinya karena sering berbuat onar di kelas (Okezone.com,2013). Masih dengan topik yang sama, pada tanggal 28 November 2013 di kabupaten Bima, NTB, seorang siswa SMA ancam guru dengan menodongkan senjata api rakitan hanya karena tidak senang ditegur oleh guru karena memakai anting (Tempo.co,2013).

Dari ketiga fakta di atas dapat kita fahami bahwa pelajar Indonesia yang notabennya berbudaya hormat dan sopan santun kini terkesan kurang etika dan tidak bermoral. Problematika lunturnya budaya sopan santun siswa terhadap guru ini bila dipandang dari landasan sosial budaya akan menimbulkan tiga pertanyaan pokok yaitu :

  1. Apa penyebab lunturnya budaya sopan santun siswa terhadap guru?
  2. Apa dampak yang ditimbulkan dari lunturnya budaya sopan santun tersebut?
  3. Bagaimana cara mengembalikan budaya sopan santun siswa terhadap guru?

ISI

  1. Pengertian Budaya Sopan Santun dan Sosial Budaya

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia milik W.J.S. Poerwadarminta , sopan adalah hormat dan takzim (akan,kpd) atau tertib menurut adat yang baik. Santun adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya) atau sabar dan tenang. Sedangkan sosial diartikan sebagai segala sesuatu mengenai masyarakat atau kemasyarakatan.

Menurut Ki Hajar Dewantara (Adam,2011), Kebudayaan diartikan sebagai buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Menurut Koentjoroningrat (Adam,2013), Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Sedang di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, budaya diartikan sebagai pikiran; akal budi (Poerwadarminta, W.J.S.,2011:180).

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya sopan santun adalah cara hidup yang diciptakan secara turun temurun oleh sekelompok orang dalam memperlakukan orang lain secara halus dan baik, baik itu budi bahasa maupun tingkah laku dengan menggunakan akal budi dan nurani. Sedangkan sosial budaya dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dicipta manusia dengan pemikiran dan akal budi dalam kehidupan bermasyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

  1. Faktor – faktor Penyebab Lunturnya Budaya Sopan Santun Siswa Terhadap Guru

Merosotnya budaya sopan santun siswa dipengaruhi banyak faktor, baik faktor tersebut dari siswa, dari guru yang merupakan faktor internal ada juga faktor dari eksternal. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau yang lebih akrab kita sebut TIK atau ICT, Kadang menjadi kambing hitam dalam masalah ini. Tetapi bukan hanya TIK atau ICT yang menjadi faktor eksternal, pengaruh moderenisasi kultur, pergaulan bebas dan penyalahgunaan obat – obat terlarang juga mengambil peranan dalam proses hilangnya sopan santun siswa terhadap guru. Dan faktor – faktor eksternal yang mempengaruhinya yaitu :

  1. Pengaruh perkembangan TIK, kebebasan meng-akses informasi yang didukung oleh akses dari internet yang mudah melalui laptop, TAB, malahan dari handphone / smartphone sehingga mempengaruhi pikiran siswa.
  2. Moderenisasi kultur, kemudahan akses internet membuat siswa bisa melihat budaya dari negara lain. Yang secara tidak langsung mereka mengaplikasikan dikehidupan sehari – hari tanpa adanya filterisasi terhadap budaya yang diambil.
  3. Pergaulan bebas, merupakan efek dari moderenisasi kultur yang tidak sesuai dengan adat istiadat Indonesia. Hal ini akan menimbulkan sifat meniru budaya barat yang cendrung bebas tanpa ada ikatan adat istiadat yang telah lama berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
  4. Penyalahgunaan obat – obat terlarang, sifat labil dalam diri siswa akan membuat siswa mencari – cari jati dirinya. Bila mana hal ini tidak tersalur secara positif, siswa akan terjerumus dalam kenikmatan semu obat – obat terlarang yang akan berpengaruh pada tingkah laku siswa tersebut.
  5. Kurangnya pembiasaan sopan santun di rumah. Sebagian besar waktu anak dihabiskan di rumah atau dilingkungan keluarga sehingga sikap orang tua yang tidak mencerminkan norma-norma kesopanan akan mudah ditiru anak.

 

Selain kelima faktor eksternal diatas, masih ada satu faktor lagi yang tidak bisa kita abaikan sebagai penyebab lunturnya budaya sopan santun siswa yaitu faktor dari guru. Berikut ulasan faktor eksternal ditinjau dari guru :

  1. Penampilan guru, ini sangat penting karena siswa akan menilai rapi atau kucel cara berpakaian guru, harum atau bau aroma tubuh guru tersebut, panjang atau pendek rambut guru (khusus guru laki – laki).     
  2. Telat atau jarang masuk, dengan beban 24 jam pelajaran dan banyaknya adminitrasi yang harus dibuat oleh seorang guru ditambah lagi ada side job untuk menambah penghasilan. Akan berdampak pada performa guru tersebut sehingga sering telat dan tidak masuk.
  3. Pilih kasih, sifat ini yang sering tidak disadari oleh guru dan sering membanding – bandingkan siswa yang satu dengan siswa yang lain.
  4. PR dan tugas sering tidak dikoreksi, dengan mengoreksi dan memberikan nilai merupakan reward bagi siswa dimana guru telah menghargai hasil kerja keras siswa tersebut.
  5. Berkata kasar, perkataan yang kasar akan membat pandangan negatif siswa terhadap guru.
  6. Suka perintah, suka memerintah siswa diwaktu dan tempat yang tidak sepantasnya.
  7. Menghukum semena-mena, guru hanyalah manusia biasa dimana ada masalah diluar sekolah yang sering terbawa disekolah. Perlunya sikap profesional guru untuk membedakan masalah sekolah dengan masalah luar sekolah. Sehingga siswa tidak menjadi pelampiasan untuk masalah – masalah guru tersebut.

D.Zawawi Imron (dalam Fathurrohman dan Sutikno,2007:49) menyatakan bahwa “Guru yang baik ialah yang menganggap semua muridnya sebagai anak-anaknya sendiri, yang setiap hari akan mendapat curahan kasih sayangnya. Guru yang baik ialah yang memberikan masa depan cemerlang dengan membekali anak didiknya dengan visi yang tajam dan ilmu yang menjanjikan”. Jadi, mengajar yang baik bukan sekedar persoalan teknik-teknik dan metodologi belajar saja tetapi disertai dengan rasa kasih sayang.

Selain faktor eksternal, ada faktor internal yang menyebabkan hilangnya sopan santun siswa terhadap guru. Berikut adalah faktor internal penyebab lunturnya budaya sopan santun siswa :

  1. Posisi sosial lebih tinggi dari guru, hal ini sering terjadi bila mana sang siswa berasal dari keluarga yang terpandang atau orang tuanya merupakan pejabat. Jadi dengan posisi orang tuanya tersebut siswa seakan tidak takut pada apapun termasuk pada guru karena orangtunya pasti akan mendukung anaknya.
  2. Posisi ekonomi lebih baik dari guru, hal ini banyak terjadi disekolah favorit dan internasional. Siswa tersebut akan memandang rendah gurunya, karena posisi ekonominya lebih baik dari gurunya. Dimana siswa kesekolah dengan kendaraan mobil, sedangkan sang guru hanya naik sepeda motor.
  3. Siswa lebih paham dengan materi yang diajarkan, pada masa sekarang pendalaman materi bukan hanya didapat dari sekolah. Bagi siswa yang serius belajar, mereka akan mencari cara untuk menperdalam materi dengan cara kursus baik melalui lembaga atau privat. Hal ini memungkinkan siswa bisa saja lebih paham dari siswa lainya. Apa lagi bila siswa itu lebih paham dari gurunya maka akan memberikan pandangan rendah terhadap guru tersebut.

    (Rohana dalam Farista, 2013)

  1. Dampak yang ditimbulkan.

Faktor internal dan eksternal yang telah dijelaskan diatas apa bila tidak ditanggulangi dan diatasi secara serius akan berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sikap profesional guru dengan kode etiknya diharapkan bisa meredam sifat labil, energi yang besar, dan gelora yang tinggi dari siswa.

Adapun dampak yang akan terjadi apa bila guru dan siswa tidak lebih jeli dan selektif untuk menyikapi faktor – faktor tersebut yaitu :

  1. Siswa tidak hormat dan segan pada guru
  2. Siswa tidak mau dinasehati.
  3. Tidak mendengarkan perkataan guru
  4. Menganggap guru sebagai teman
  5. Berani berkata kasar bahkan sampai melakukan tindak kekerasan kepada guru.
  1. Solusi untuk Mengembalikan Budaya Sopan Santun Siswa

Pembudayaan merupakan suatu proses pembiasaan. Pembudayaan sopan santun dapat dimaksudkan sebagai upaya pembiasaan sikap sopan santun agar menjadi bagian dari pola hidup seseorang yang dapat dicerminkan melalui sikap dan perilaku keseharian. Menurut Ujiningsih dan Antoro (2010:4-6), pembudayaan sopan santun dapat dilakukan di rumah dan di sekolah.

Pembudayaan sopan santun di rumah dapat dilakukan melalui peran orang tua dalam mendidik anaknya. Orang tua dapat melakukan hala-hal sebagai berikut:

1. Orang tua memberikan contoh-contoh penerapan perilaku sopan santun di depan anak. Contoh merupakan alat pendidikan yang sekaligus dapat memberikan pengetahuan pada anak tentang makna dan implementasi dari sikap sopan santun itu sendiri.

2. Menanamkan sikap sopan santun melalui pembiasaan. Anak dibiasakan bersikap sopan dalam kehidupan sehari hari baik dalam bergaul dalam satu keluarga maupun dengan lingkungan.

3. Menanamkan sikap sopan santun sejak anak masih kecil, anak yang sejak kecil dibiasakan bersikap sopan akan berkembang menjadi anak yang berperilaku sopan santun dalam bergaul dengan siapa saja dan selalu dpat menempatkan dirinya dalam suasana apapun. Sehingga sikap ini dapat diajadikan bekal awal dalam membina karakter anak.

Pembudayaan sikap sopan santun di sekolah dapat dilakukan melalui program yang dibuat oleh sekolah untuk mendesain skenario pembiasaan sikap sopan santun. Sekolah dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Peran sekolah dalam membiasakan sikap sopan santun dapat dilakukan dengan memberikan contoh sikap sopan dan santun yang ditunjukkan oleh guru. Siswa sebagai pembelajar dapat menggunakan guru sebagai model. Dengan contoh atau model dari guru ini siswa dengan mudah dapat meniru sehingga guru dapat dengan mudah menananmkan sikap sopan santun.

2. Guru dapat selalu mengitegrasikan perilaku sopan santun ini dalam setiap mata pelajaran, sehingga tanggungjawab perkembangan anak didik tidak hanya menjadi beban guru agama dan guru BP saja.

3. Guru agama dan guru BP dapat melakukan pembiasaan yang dikaitkan dalam penilain secara afektif. Penilaian pencapain kompetensi dalam 2 matapelajaran ini hendaknya difokuskan pada pencapain kompetensi afektif. Kompetensi kognitif hanya sebagai pendukung mengusaan secara afektif.

 

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Lunturnya budaya sopan santun siswa terhadap guru merupakan masalah umum yang tengah dihadapi oleh dunia pendidikan masa sekarang. Terdapat banyak faktor mempengaruhi terjadinya masalah ini baik internal maupun eksternal. Untuk internal faktor tersebut berasal dari diri siswa sendiri sedangkan faktor eksternal yaitu perkembangan ICT, moderenisasi kultur, pergaulan bebas dan penyalahgunaan obat – obat terlarang serta faktor dari guru sebagai tenaga pendidik.

Dari faktor eksternal diatas, perlunya kesadaran dan filterisasi siswa untuk memanfaatkan ICT dan menyerap budaya asing serta dengan kesadaran dapat membudayakan sopan santun baik dilingkungan rumah maupun sekolah. Dari sisi guru dan orang tua perlunya strategi atau cara untuk mengembalikan budaya sopan santun siswa. Perlu adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah dan orang tua agar budaya sopan santun siswa dapat terjaga dengan baik. Semuanya merupakan suatu ikatan yang utuh, dan apabila terputus maka akan menimbulkan masalah besar.

  1. Saran

    Demi lestarinya budaya sopan santun siswa yang merupakan budaya warisan leluhur, hal yang perlu dilakukan selaku siswa, guru dan orang tua adalah :

    1. Siswa. Diharapkan siswa dapat membudayakan sopan santun baik dilingkungan rumah maupun sekolah.
    2. Guru. Sebagai tenaga pendidik, guru adalah model bagi siswa. Seorang guru hendaknya selalu menunjukkan sikap sopan dan santun agar dapat menjadi contoh bagi anak didiknya serta sesalu mengintegrasikan sopan santun disetiap proses pembelajaran sehingga dapat menjadikan siswa manusia yang intelek dan berakhlak mulia.
    3. Orang tua. Sebagai orang tua yang baik hendaknya selalu menunjukkan dan mengajarkan sikap sopan santu pada anak sedini mungkin mengingat karakter dan watak anak akan terbentuk sejalan dengan kebiasaan yang sering dilakukan sejak kecil.

Daftar Pustaka

Adam. 2011. Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli. http://mediabacaan.blogspot.com/2011/03/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli.html?m=1. Diakses pada tanggal 9 Desember 2013.

Antique, Indrani Putri. 2012. Guru Australia: Saya Kaget Murid Cium Tangan. http://dunia.news.viva.co.id/news/read/281864-indonesia-di-mata-pengajar-australia . Diakses tanggal 8 Desember 2013.

 

Farista, Irsadi. 2013. Problematika Menurunnya Rasa Hormat (Respect) Siswa Kepada Guru Ditinjau dari Landasan Sosial Budaya. http://irsadifarista.wordpress.com/2013/01/04/problematika-menurunnya-rasa-hormat-respect-siswa-kepada-guru-ditinjau-dari-landasan-sosial-budaya/ . Diakses tanggal 10 Desember 2013.

 

Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno. 2007. Strategi Belajar Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum dan Islami. Bandung: Refika Aditama.

 

Nur, Akhyar. M. 2013. Ditegur Pakai Anting, Murid Todong Guru. http://www.tempo.co/read/news/2013/11/30/058533611/Ditegur-Pakai-Anting-Murid-Ancam-Guru-dengan-Senapan. Diaskses tanggal 9 Desember 2013.

 

Poerwadarminta, W.J.S. 2011. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Sunaryo, Arie. 2013. Kesal Disuruh Sabar, Murid Tantang dan Aniaya Guru dengan Pisau Cutter. http://www.merdeka.com/peristiwa/kesal-disuruh-sabar-murid-tantang-aniaya-guru-dengan-cutter.html . Diakses tanggal 9 Desember 2013.

 

Tamenk, Febriyono. 2013. Dimarahi, Siswa ini Ancam Injak Leher Gurunya. http://news.okezone.com/read/2013/11/14/340/897096/redirect. Diakses tanggal 9 Desember 2013.

 

Ujiningsih dan Antoro, S.D. 2010. Pembudayaan Sikap Sopan Santun di Rumah dan di Sekolah Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Karakter Siswa. Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional Guru tahun 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: